Selasa, 01 November 2016

KUMPULAN PUISI @syauqi umi



“Derita Jelata”
Oleh: Siti Li’amanah


Mendung hitam
Gelap
Menutup purnama
Jatuh menjejak bumi pertiwi
Menjadi saksi maraknya kekejaman 
Dan keangkuhan dunia

Kegelapan
Hadir menatap sendu
Jerit-jerit tangis pilu
Tersimpah lumpur dan debu
Menampakkan tulang rapuh
Dalam tubuh mungil sang jelata

Kabut-kabut menyaksikan
Isak tangis yang terdengar miris
Menyayat dan mengiris
Kehilangan senyum dan harapan
Tinggalah nestapa duka  lara

Tidakkah kau dengar jeritan
Tangisan para jelata
Tidur terlentang menapaki jalanan
Terpuruk awan bawah jembatan

Tidakkah kau bercermin pada keadaan
Mereka yang malang haus pendidikan
Hidup dalam kekerasan 
Resah dalam kebodohan

Mungkinkah Negara tanpa keadilan
Membiarkan terbelenggu kemiskinan
Membela tikus-tikus kantor
Dan mendiamkan korupsi
Memanipulasi jeruji besi

Mungkinkah tercapai kesejahteraan
Mungkinkan merasakan keadilan
Untuknya tulang-tulang kering
Yang buruh uluran tangan
Mungkinkah sang jelata meraih bahagia?
Ditengah kerasnya persaingan massa

v   

“Rindu Bunda”
Oleh: Siti Li’amanah

Bunda
Mungkin hanya mampu kuukir kata
Kutuliskan dalam senada bait-bait cinta
Namun
Kehilangan mu tidak pernah terlukis
Dalam bayang-bayang  senja

Bunda
Mengingat senyummu
Mengingat indah  tawamu
Kini hanya tersisa segumpal rindu
Hadir menyiksa di setiap hari-hariku

Bunda
Celoteh kemarahanmu akan kesalahanku
Menjadi kenagan manis dan pilu
Meyisakan bercak-bercak sendu
Membuatku semakin rindu akan hadirmu
Meski sekejap dalam mimpiku

Bunda
Luka akan kehilanganmu
Belum tidak akan  dari benakku
Bayangan menatap senyum di wajamu
Yang terbaring tanpa hembusan nafas
Mengirigi deraian air mata anak-anakmu

Bunda
Kala terpejam mataku
Kala tidak ingin lagi kurasakan duniaku
Aku ingin pergi menemuimu
Menceritakan seluruh kisahku
Menghilangkan sesak didadaku

Bunda
Akankah kau tau hatiku
Ketika ku hadiri pemakamanmu
Ketika tangan tuhan kembali memintamu
Menerimamu dalam gundukan tanah hitam
Aku menjerit menyatakan
Aku merindukanmu bunda



“Rahmat Pesantren”
Oleh: Siti Li’amanah

Nafas alam semerbak wangi
Teriring lantunan ayat suci
Bukti bakti dan budi pekerti
Kemulyaan rahmat sang Ilahi
Dan jejak langkah para santri

Dinding kokoh
Yang tidak akan tergoyah lemah
Meski kadang resah dan gelisah
Namun mampu meredam amarah

Bagaikan kapal dalam bahtera
Yang tak tergoyah oleh masa
Tidak akan terjemah  kekerasan dunia
Jauh dari radikalisme, komunisme agama
Dan kesombongan manusia

Lingkaran suci
Benteng-benteng agama Ilahi
Tuntunan para ulama Islami
Hadir sebagai cahaya pemersatu bangsa
Berlandaskan al-Qur’an dan sunnah mulia

Bulan menjadi saksi
Kejernihan rahmat pesantren suci
Dan janji-janji Ilahi
Akan indahnya taman syurgawi

Sejuk tetesan embun pagi
Iringi keberkahaan ilmu santri
Mengalir dalam darah murni
Menyatu dalam denyut nadi
Rahmat pesantren yang suci

 
 “Sepatah Kata”
Oleh: Siti Li’amanah

Sepatah kata
Sepatah kata harapan pujangga
Bukan tangan gagah sang perwira
Hadirmu layak ku puja
Wahai pria yang penuh wibawa

Sepatah kata
Sejauh ku berlari menuju surya
Mencoba meraih sang purnama
Mendaki dan menggenggam cakarawala
Agar tersampaikan hasrat dan rasa

Sepatah kata
Mungkin mudah memendam dalam sukma
Membubuhkan lakmus dalam raksa
Namun tak bisa dipungkiri jiwa
Bahwa inilah bukti rasa cinta

Sepatah kata
Ketika kucoba menggapainya
Menyatakan janji indah yang tertunda
Berpegang pada iman dan takwa

Sepatah kata
Bagaikan rumput tanpa suara
Hanya dengan Sepatah kata
Ku nyatakan aku jatuh cinta
Padamu wahai pria berahlak mulia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar