“Derita Jelata”
Oleh: Siti Li’amanah
Mendung hitam
Gelap
Menutup purnama
Jatuh menjejak bumi pertiwi
Menjadi saksi maraknya kekejaman
Dan keangkuhan dunia
Kegelapan
Hadir menatap sendu
Jerit-jerit tangis pilu
Tersimpah lumpur dan debu
Menampakkan tulang rapuh
Dalam tubuh mungil sang jelata
Kabut-kabut menyaksikan
Isak tangis yang terdengar miris
Menyayat dan mengiris
Kehilangan senyum dan harapan
Tinggalah nestapa duka lara
Tidakkah kau dengar jeritan
Tangisan para jelata
Tidur terlentang menapaki jalanan
Terpuruk awan bawah jembatan
Tidakkah kau bercermin pada keadaan
Mereka yang malang haus pendidikan
Hidup dalam kekerasan
Resah dalam kebodohan
Mungkinkah Negara tanpa keadilan
Membiarkan terbelenggu kemiskinan
Membela tikus-tikus kantor
Dan mendiamkan korupsi
Memanipulasi jeruji besi
Mungkinkah tercapai kesejahteraan
Mungkinkan merasakan keadilan
Untuknya tulang-tulang kering
Yang buruh uluran tangan
Mungkinkah sang jelata meraih bahagia?
Ditengah kerasnya persaingan massa
v
“Rindu Bunda”
Oleh: Siti Li’amanah
Bunda
Mungkin hanya mampu kuukir kata
Kutuliskan dalam senada bait-bait cinta
Namun
Kehilangan mu tidak pernah terlukis
Dalam bayang-bayang senja
Bunda
Mengingat senyummu
Mengingat indah tawamu
Kini hanya tersisa segumpal rindu
Hadir menyiksa di setiap hari-hariku
Bunda
Celoteh kemarahanmu akan kesalahanku
Menjadi kenagan manis dan pilu
Meyisakan bercak-bercak sendu
Membuatku semakin rindu akan hadirmu
Meski sekejap dalam mimpiku
Bunda
Luka akan kehilanganmu
Belum tidak akan dari
benakku
Bayangan menatap senyum di wajamu
Yang terbaring tanpa hembusan nafas
Mengirigi deraian air mata anak-anakmu
Bunda
Kala terpejam mataku
Kala tidak ingin lagi kurasakan duniaku
Aku ingin pergi menemuimu
Menceritakan seluruh kisahku
Menghilangkan sesak didadaku
Bunda
Akankah kau tau hatiku
Ketika ku hadiri pemakamanmu
Ketika tangan tuhan kembali memintamu
Menerimamu dalam gundukan tanah hitam
Aku menjerit menyatakan
Aku merindukanmu bunda
“Rahmat
Pesantren”
Oleh: Siti
Li’amanah
Nafas alam
semerbak wangi
Teriring
lantunan ayat suci
Bukti bakti dan
budi pekerti
Kemulyaan
rahmat sang Ilahi
Dan jejak
langkah para santri
Dinding kokoh
Yang tidak akan
tergoyah lemah
Meski kadang resah
dan gelisah
Namun mampu
meredam amarah
Bagaikan kapal
dalam bahtera
Yang tak
tergoyah oleh masa
Tidak akan
terjemah kekerasan dunia
Jauh dari
radikalisme, komunisme agama
Dan kesombongan
manusia
Lingkaran suci
Benteng-benteng
agama Ilahi
Tuntunan para
ulama Islami
Hadir sebagai
cahaya pemersatu bangsa
Berlandaskan
al-Qur’an dan sunnah mulia
Bulan menjadi
saksi
Kejernihan
rahmat pesantren suci
Dan janji-janji
Ilahi
Akan indahnya
taman syurgawi
Sejuk tetesan
embun pagi
Iringi
keberkahaan ilmu santri
Mengalir dalam
darah murni
Menyatu dalam
denyut nadi
Rahmat
pesantren yang suci
“Sepatah Kata”
Oleh: Siti
Li’amanah
Sepatah kata
Sepatah kata harapan pujangga
Bukan tangan gagah sang perwira
Hadirmu layak ku puja
Wahai pria yang penuh wibawa
Sepatah kata
Sejauh ku berlari menuju surya
Mencoba meraih sang purnama
Mendaki dan menggenggam cakarawala
Agar tersampaikan hasrat dan rasa
Sepatah kata
Mungkin mudah memendam dalam sukma
Membubuhkan lakmus dalam raksa
Namun tak bisa dipungkiri jiwa
Bahwa inilah bukti rasa cinta
Sepatah kata
Ketika kucoba menggapainya
Menyatakan janji indah yang tertunda
Berpegang pada iman dan takwa
Sepatah kata
Bagaikan rumput tanpa suara
Hanya dengan Sepatah kata
Ku nyatakan aku jatuh cinta
Padamu wahai pria berahlak mulia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar