BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pendekatan saintifik (Scientific Approach) dalam pembelajaran merupakan ciri khas dan menjadi kekuatan tersendiri dari keberadaan kurikulum 2013. Dalam Permendikbud nomor 137 Tahun 2013 tentang Standar Proses pembelajaran anak usia dini megisyaratkan bahwa pelaksanaan pembelajaran yang dipadu dengan kaidah-kaidah pendekatan saintifik yang dilakukan melalui bermain secara Interaktif, Inspiratif, Menyenangkan, Kontekstual, dan berpusat pada anak untuk berpartisispasi aktif serta memberikan keleluasaan bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis anak. Memberikan pembelajaran dengan pendekatan saintifik dalam pembelajaran didalamnya mencakup komponen: Mengamati, Menanya, Mengumpulkan Informasi, Mengasosiasi dan Mengkomunikasikan. Komponen-komponen tersebut semestinya dapat dimunculkan dalam setiap praktik pembelajaran tetapi bukanlah siklus pembelajaran sehingga peserta didik terlibat dalam pembelajaran.
Penerapan pendekatan saintifik menuntut adanya perubahan model pembelajaran yang mana dalam pelaksanaannya melibatkan media yang mendukungnya. Hal tersebut menjadi sangat penting ketika dikaitkan dengan pembelajaran pada anak usia dini, dikarenakan anak pada usia dini masih membutuhkan adanya stimulus, rangsangan dengan media yang mampu menarik perhatiannya.
Oleh sebab itu, penulis sebagai salah satu tenaga pendidik di kelompok bermain, dimana peserta didiknya merupakan kumpulan dari anak-anak usia dini mulai usia 3-4 Tahun, anak pada usia Golden Age merupakan masa penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, sehingga penulis memberikan stimulus pada anak didik melalui media, yang digunakan untuk menarik perhatian anak didik untuk mengikuti, mengamati, dan berperan dalam proses pembelajaran, dan media yang digunakan oleh penulis saat ini ialah media “Car and Magic Box” atau bisa disebut “Mobil dan Kotak Ajaib”.
Car and Magic Box merupakan media pembelajaran yang di rancang untuk mengembangkan enam Aspek perkembangan pada anak usia 3-6 yang meliputi aspek Nilai Agama dan Moral, Kognitif, Fisik Motorik, Sosial Emosional, Bahasa dan Seni. selain itu, desain mobil yang dibuat bergerak menggunakan mesin buatan menjadi nilai plus untuk menarik perhatian anak didik, box yang terisi dengan permen menjadi media penting dalam pembelajaran dengan daya tarik yang tidak kalah menarik, sehingga berdasarkan uraian tersebut penulis meuangkan dalam bentuk karya tulis yang berjudul Pembelajaran dengan pendekatan saintifik melalui media “Car and Magic Box”.
Tujuan
Menciptakan pembelajaran yang dilaksanakan dengan pendekatan saintifik sebagai upaya mewujudkan aspek perkembangan anak
Menciptakan pembelajaran yang menyenangkan untuk anak dengan media yang menarik
Mencipakan pembelajaran dengan konsep “belajar sambil bermain” dalam pembelajaran anak melalui pendekatan saintifik dengan media Car and Magic Box.
Manfaat
Banyak pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari anak saat belajar sambil bermain.
Proses berfikir ilmiah meghubungkan semua konsep dalam suatu rangkaian kerja, tidak dilakukan secara terpisah-pisah
Anak membangun kemampuan pengetahuan, sikap dan keterampilan dengan cara melakukan, bukan dikte maupun hapalan.
BAB II
LANDASAN TEORI
Pendekatan Saitifik
Definisi Pendekatan Saintifik
Pendekatan saintifik adalah salah satu pendekatan dalam membangun cara berfikir agar anak memiliki kemampuan menalar yang diperoleh melalui proses mengamati, sampai pada mengkomunikasikan hasil pikirnya. Hal ini didasarkan pada pemikiran Piaget yang menyatkan bahwa “anak belajar dengan cara membangun pegetahuannya sendiri melalui pengalaman yang diperolehnya”. Vygotsky berpendapat bahwa “lingkungan, termasuk anak lain maupun orang dewasa dan media sangat membantu anak dalam belajar untuk memperkaya pengalaman anak.
Pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengonstruk konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulakan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang “ditemukan”.
Pendekatan saintifik dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada peseta didik dalam mengenal, memahami berbagai materi menggunakan pendekatan ilmiah, bahwa informasi bisa berasal dari mana saja, kapan saja, tidak bergantung pada informasi searah dari guru. Oleh karena itu, kondisi pembelajaran yang diharapkan tercipata diarahkan untuk mendorong peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber melalui observasi, dan bukan hanya diberi tahu.
Penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran melibatkan keterampilan proses seperti Mengamati, Menanya, Mengumpulkan Informasi, Mengasosiasi dan Mengkomunikasikan. Dalam melaksanakan proses-proses tersebut, bantuan guru diperlukan. Akan tetapi, bantuan guru tersebut harus semakin berkurang dengan semakin bertambahnya usia peserta didik.
Model ini menekankan pada proses pencarian pengetahuan dari pada transfer pengetahuan, peserta didik dipandang sebagai subjek belajar yang perlu dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran, guru hanyalah seorang fasilitator yang membimbing dan mengkoordinasikan kegiatan belajar. Banyak para ahli yang meyakini bahwa melalui pendekatan saintifik, selain dapat menjadikan siswa lebih aktif dalam mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya, juga dapat mendorong peserta didik untuk melakukan penyelidikan guna menemukan fakta-fakta dari suatu fenomena atau kejadian.
Dengan demikian peserta didik diarahkan untuk menemukan sendiri berbagai fakta, membangun konsep, dan nilai-nilai baru yang diperlukan untuk kehidupannya. Fokus proses pembelajaran diarahkan pada pengembangan keterampilan peserta didik dalam memproseskan pengetahuan, menemukan dan mengembangkan sendiri fakta, konsep, dan nilai-nilai yang diperlukan, selain demikian juga diupayakan untuk megembangkan Aspek Perkembangan Anak.
Karakteristik Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik
Pembelajaran dengan metode saintifik memiliki karakteristik sebagai berikut:
Berpusat pada peserta didik, Melibatkan keterampilan proses sains dalam mengontruksi konsep, hukum atau prinsip.
Melibatkan proses-proses kognitif yang potensial dalam merangsang perkembangan intelek, khususnya keterampilan berfikir tingkat tinggi peserta didik.
Dapat mengembangkan karakter peserta didik
Proses Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran PAUD
Kegiatan pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan ilmiah (saintifik). Proses pembelajaran harus menyentuh tiga ranah, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam pembelajaran semua mata pelajaran meliputi menggali informasi melalui Mengamati, Menanya, Mengumpulkan Informasi, Mengasosiasi dan Mengkomunikasikan.
Pendekatan saintifik (scientific approach) dalam pembelajaran disajikan sebagai berikut:
Mengamati (Observing)
Mengamati adalah tahap awal dari serangkaian tahapan pembelajaran berpusat pada peserta didik dengan pendekatan saintifik yang terdiri dari mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, mengkomunikasikan. Mengamati melatih siswa dalam hal kesungguhan, ketelitian, mencari informasi.
Mengamati berarti kegiatan menggunakan semua panca indera (penglihatan, pendengaran, penghidungan, peraba dan pengecap) untuk mengenali suatu benda yang diamatinya. Semakin banyak indera yang digunakan untuk mengamati maka semakin banyak informasi yang diterima dan diproses dalam otak anak. Guru berperan sebagai pengamat dan fasilitator bukan sebagai instruktur.
Dalam kegiatan mengamati, guru membuka secara luas dan bervariasi kesempatan peserta didik untuk melakukan pengamatan melalui kegiatan: melihat, menyimak, mendengar yang diformulasikan pada skenario proses pembelajaran. Guru memfasilitasi peserta didik untuk melakukan pengamatan, melatih mereka untuk memperhatikan (melihat, mendengar) hal yang penting dari suatu benda atau objek.
Mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, mengkomunikasikan memerlukan bimbingan dan arahan guru. Banyak peserta didik tidak paham apa yang harus dilakukan selama proses mengamati menanya mengumpulkan informasi mengasosiasi mengkomunikasikan. Jika kita berikan waktu untuk melakukan semua tahapan itu tanpa bimbingan dan arahan bisa dipastikan mereka mungkin belajar tetapi tidak mencapai tujuan pembelajaran.
Menanya (Questioning)
Menanya adalah tahap kedua dari serangkaian tahapan pembelajaran berpusat pada siswa dengan pendekatan saintifik yang terdiri dari mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, mengkomunikasikan. Menanya melatih siswa mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat. Menanya adalah salah satu kompetensi yang diperlukan siswa untuk hidup di era cerdas abad 21.
Dalam kegiatan menanya, guru membuka kesempatan secara luas kepada peserta didik untuk bertanya mengenai fakta, konsep, prinsip atau prosedur yang sudah dilihat, disimak, atau dilihat. Guru perlu membimbing peserta didik untuk dapat menanya atau mengajukan pertanyaan: pertanyaan tentang hasil pengamatan objek yang konkrit sampai kepada yang abstrak berkenaan dengan fakta, konsep, prosedur, atau pun hal lain yang lebih abstrak. Siswa harus dilatih agar bisa menanya hal-hal yang bersifat faktual sampai kepada pertanyaan yang bersifat hipotetik. Dari situasi di mana peserta didik dilatih menggunakan pertanyaan dari guru, masih memerlukan bantuan guru untuk mengajukan pertanyaan sampai ke tingkat di mana peserta didik mampu mengajukan pertanyaan secara mandiri.
Menanya yang harus dilakukan siswa dapat berbentuk (1) membuat pertanyaan yang relefan dengan materi pembelajaran (2) mengajukan pertanyaan yang sudah dibuat kepada guru, teman dalam kelompok atau sumber belajar lainnya. (3) melakukan tanya jawab (4) melakukan diskusi tentang informasi yang relefan dengan topik pembelajaran yang belum diketahui (5) menanyakan informasi tambahan yang ingin diketahui atau (6) menanyakan informasi yang sudah diketahui sebagai klarifikasi.
Mengumpulkan informasi /mencoba (experimenting)
Mengumpulkan informasi adalah tahap ketiga dari tahapan pembelajaran berpusat pada siswa dengan pendekatan saintifik yang terdiri dari mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, mengkomunikasikan. Mengumpulkan informasi melatih siswa mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, menerapkan kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat.
Mengasosiasi /menalar /mengolah informasi (associating)
Mengasosiasi/mengolah informasi adalah tahap ke empat dari serangkaian tahapan pembelajaran berpusat pada siswa dengan pendekatan saintifik yang terdiri dari mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, mengkomunikasikan. Mengasosiasi/mengolah informasi melatih peserta didik mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir induktif serta deduktif dalam menyimpulkan.
Mengkomunikasikan/Mengomunikasikan
Mengkomunikasikan/Mengomunikasikan adalah tahap ke lima dari serangkaian tahapan pembelajaran berpusat pada siswa dengan pendekatan saintifik yang terdiri dari mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, mengkomunikasikan. Mengkomunikasikan melatih siswa mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas, dan mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar.
Kegiatan belajar yang dilakukan pada tahapan mengkomunikasikan adalah menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya. Kegiatan lainnya adalah menuliskan atau menceritakan apa yang ditemukan dalam kegiatan mencari informasi, mengasosiasikan dan menemukan pola. Hasil tersebut disampaikan di kelas dan dinilai oleh guru sebagai hasil belajar peserta didik atau kelompok peserta didik tersebut.
Seluruh kegiatan pembelajaran berpusat pada siswa dengan pendekatan saintifik tersebut akan berjalan dengan baik dan kondusif melalui perencanaan pembelajaran yang cermat dan didampingi dengan pengelolaan kelas yang cermat pula. Karena itu sebelum melaksanakan pembelajaran berpusat pada peserta didik dengan tahapan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, mengkomunikasikan harus dipastikan juga rencana pengelolaan kelas.
Media
Media yang dimaksud dalam hal ini ialah media pembelajaran yang merupakan suatu perantara, alat atau semua hal yang dapat digunakan sebagai penyalur pesan dari pengirim kepada penerima untuk merangsang fikiran, perasaan, perhatian dan minat, serta perhatian anak didik sehingga proses belajar terjadi. Pesan berupa ajaran dan didikan yang ada dikurikulum dituangkan oleh pendidik dalam simbol komunikasi, maupun simbol lainnya.
Peran media dalam pembelajaran khususnya pada anak usia dini sangat penting mengingat perkembangan anak pada saat iniberada pada masa berfikir kongrit. Media dalam proses pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar peserta didik dalam pembelajaran yng pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainnya.
Penggunaan bebagai media untuk pembelajaran ini dimaksudkan agar anak dapat menggali pengetahuan melalui benda-benda disekitarnya. Piaget meyakini bahwa anak belajar banyak dari media dan alat yang digunakan saat bermain, karena itu, media belajar bukan yang berasal dari pabrikan, tetapi juga segala bahan yang ada disekitar anakseperti daun, tanah, batu, tanaman dan sebagainya.
Media pembelajaran yang dapat digunakan dalam memfasilitasi pembelajaran meliputi:
Media visual:media yang dapat dilihat melalui indra penglihatan, seperti media gambar.
Media audio:media yang mengandung auditif (hanya dapat didengar) yang dapat merangsang pikiran perasaan, perhatian dan pemahaman untuk memahami bahan ajar.
Media audio visual:merupakan kombinasi audio dan visual yang biasa disebut dengan media pandang dengar.
Media objek:merupakan media 3D yang menyampaikan informasi tidak dalam bentuk penyajian melainkan melalui ciri fisiknya sendiri seperti: ukuran, bentuk, berat, susunan, warna, fungsi dan lain sebagainny, media ini dibagi dalam dua kelompok yaitu media objek alami dan media objek buatan.
Media sederhana: media yang mudah dibuat dan mudah diperoleh bahan-bahannya
Car and Magic Box
Car berasal dari bahasa inggris yang artinya Mobil, merupakan media buatan yang dirancang pendidik sebagai bentuk miniatur mobil, untuk megembangkan enam aspek perkembangan anak meliputi Nilai Agama dan Moral, Fisik Motorik, Kognitif, Sosial Emosional, Bahasa, serta Seni pada Anak. Media Car di buat dengan bahan sebagaimana berikut: Toples Bekas, Suit, Dinamo, Lakban, Plastik bekas malkis, Kaleng bekas, Lem , kertas bling, Baterai, Tutup botol bekas, besi, selang aqua, flannel, karet gelang dan stik es cream yang disusun sehingga membentuk miniatur mobil sport.
Sedangkan Magic Box terdiri dari dua kata yaitu Box dan Magic, Box yang berarti kotak dan Magic yang berarti Keajaiban atau segala hal yang bersifat ajaib diluar kebiasaan, dalam KBBI diartikan sebagai segala sesuatu yang ganjil, aneh, jarang ada, tidak seperti biasa dan mengherankan. Maka Magic Box merupakan sebuah Kotak yang berbeda dengan kotak pada umumnya, difungsikan untuk media permainan dalam proses pembelajaran yang dilakukan dengan metode pendekatan saintifik/ilmiah. Bagi anak usia dini segala hal yang aneh merupakan suatu hal yang menarik sehingga memudahkan dalam merangsang ketertarikan anak untuk berpartisispasi dalam pembelajaran. Magic Box merupakan media pembelajaran yang terbuat dari Kardus Bekas, karet gelang, Lem, Benang, pita bekas, Potongan Origami, desain kepingan kardus dan origami, dan flannel.
Media Car and Magic Box didesain menjadi dua media yang beroprasi secara satu kesatuan, saling berhubungan untuk membantu anak mencapai enam aspek perkembangan anak usia dini.
BAB III
LANGKAH PELAKSANAAN PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK BERBASIS MEDIA CAR AND MAGIC BOX
Kegiatan Pembukaan
Pada kegiatan pembuka guru berinteraksi dengan murid mulai dengan kegiatan Circle Time, berdo’a sebelum belajar, Pada saat lingkaran guru memberikan ide kepada anak tentang menirukan gerakan dan suara mobil, kemudian menjalin komunikasi dengan anak melalui pertanyaan-pertanyaan pembuka.
Guru : “siapa yang pernah bepergian?
Rafa : “saya bu”
Guru : “Pernah bepergian kemana?”
Rafa : “kemana-mana bu guru”
Guru : ”kalau bepergian naik apa?
Rafa : “motor bu guru”
Farel : “mobil”
Khansa : “Bus, bu guru”
Setelah beberapa tanya jawab guru memberikan apresepsi melalui tebakan kepada anak-anak, diharapkan anak mampu memberikan jawaban dari tebakan tersebut, dan anak mampu berfikir kritis.
Guru : “teman-teman bu guru mempunyai tebakan, aku sebuah kendaraan, aku mempunyai roda empat, terkadang aku dinaiki empat sampai enam penumpang, kendaraan apakah aku”?
Farel : “Mobil bu”
Kemudian besama-sama menyanyikan lagu “mobilku”, selain itu dari kegiatan pembukaan anak mampu berfikir kritis dan mencoba menemukan jawaban, menalar, mengkomunikasikan mengenai hal yang pernah dialaminya, serta menyampaikan pengetahuannya mengenai mobil.
Kegiatan Inti Pembelajaran
Pada kegiatan inti anak-anak duduk melingkar menghadap media Car and Magic Box yang telah disiapkan oleh Guru, sebelum kegiatan dimulai, guru memberikan kesempatan kepada anak untuk mengamati media miniatur mobil secara bergantian. Guru juga mengajak anak berdiskusi mengenai media miniatur mobil tersebut, sesekali guru memberikan penjelaskan terlebih dahulu mengenai media dan bagaimana penggunaan media yang terdiri dari miniatur mobil dan box ajaib tersebut. Selain itu, pada kegiatan inti guru juga meminta anak-anak untuk membuat karya yang berkaitan dengan mobil. Kemudian memulai pembelajaran dengan cara membagi masing-masing empat anak dalam satu kelompok. Pembelajaran dilaksanakan dengan menerapkan pendekatan saintifik untuk mencapai enam aspek perkembangan anak, sebagaimana berikut:
Penerapan pendekatan saintifik dalam lingkup perkembangan nilai Agama dan Moral
Pada penerapan kegiatan pijakan sebelum bermain terjadi percakapan antara anak-anak dan bu guru.
Guru :”teman-teman dalam permainan nanti akan ada yang berperan menjalankan mobil, dan mobil akan berjalan, kira-kira tadi apa ya yang harus kita lakukan saat kita mau naik kendaraan?”
Rafa :”buka pintunya langsung masuk bu”
Guru :”bagus sekali, tetapi setelah membuka pintunya dan masuk ke mobil kira-kira apa ya yang harus kita lakukan?”
Anak-anak: “berdo’a bu guru”
Guru :”Pintar, kalau begitu mari kita bersama membaca doa naik kendaraan ya”
Anak-anak: “iya bu guru”
Pada kegiatan diskusi diatas anak-anak telah melakukan kegiatan, pengamatan, ia mengamati dengan melakukan proses diskusi untuk menemukan jawaban dan menemukan solusi dari permasalahan yang ada.
Penerapan Pendekatan Saintifik dalam Lingkup Perkembangan Sosial Emosional
Pada kegiatan berikutnya Guru mengajak anak-anak untuk berkumpul sesuai kelompok masing-masing, mengantri, dan bekerja sama dalam TIM. Guru kemudian mengajak anak untuk bermain sesuai kelompok masing-masing.
Guru :“ayo teman-teman kita mulai menjalankan mobilnya sesuai dengan tim masing-masing ya?
Ana :“ kita harus kerja bareng bu”
Rafa dan Farel bertugas menyalakan suit dan menjalankan miniatur mobilnya, sementara alif berada di tengah lintasan untuk meghentikan mobil dan menekan tombol berhenti. Selanjutnya arum menunggu di penghujung lintasan dan alif membawa mobil yang telah dihentikan ke arah arum dan menekan Box sesuai dengan warna keping origami yang jatuh dari dalam mobil. Sesampainya di box Rafa meminta untuk menekan box namun guru memberikan penjelasan padanya melalui komunikasi dengan anak.
Guru :“kira-kira kita tidak boleh apa ya teman kalau bekerja kelompok?”
Rafa :“farel ya bu sekarang? farel bu”
Guru :“iya, kalau dalam tim kita harus sabar, mau mengantri”
Gio : “bu tidak boleh dorong-dorongan ya bu?
Guru : “Betul, sekali maka kita harus rapi dan hati-hati”
Arum : “kata ibu tidak boleh dorong-dorong nanti jatuh ya bu?
Guru : “iya. pintar”
Pada kegiatan ini anak terlibat diskusi dengan mengumpulkan informasi yang dia dapat, kemudian menemukan solusi yang efektif.
Penerapan Pendekatan Saintifik dalam Lingkup Perkembangan Fisik Motorik dan Kognitif.
Permainan dimulai Gio berada di ujung kanan dan Khansa berada di ujung kiri, Gio menekan tombol on pada miniatur mobil dan mobilpun berjalan, sepanjang jalan mobil menjatuhkan keping origami dan Resa yang bertugas mengambil keping jenis apa saja yang terjatuh dari mobil, sampai mobil di hadapan Khansa, Khansa pun menekan tombol off agar mobil berhenti, kemudian keempatnya menuju ke Ana yang sudah berada di depan Magic Box . Ana menekan tombol dalam Magic Box sesuai dengan keping yang jatuh yang telah di pungut oleh khansa, kemudian bersama-sama menyebutkan Angka, Abjad atau hijaiyah yang keluar dari box tersebut. Setelah semua di sebutkan, Farel bertanya.
Farel :”bu guru kenapa mobilnya berjalan ketika tombolnya di tekan kedalam bu?”
Guru : “Karena ada tarikan dari dalam yang membuat roda mobil berputar mas Farel?”
Khansa : “Bu ini dikotak ada isinya banyak ya bu?”
Guru :”Iya di kotak itu kepingnya banyak, ada keping warna pink bertulisan huruf hijaiyah, keping warna kuning bertulisan angka dan keping berwarna merah bertulisan abjad”
Rafa : “Bu guru, kenapa rodanya berputar sendiri bu”
Guru : “karena ada baterai dan mesinnya sehingga rodanya berputar”
Anak belajar dari permainan dan mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan mengenai apa yang membuatnya ingin megetahuinya, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
Penerapan Pendekatan Saintifik dalam lingkup Perkembangan Bahasa
Pada saat permainan berlangsung khansa memanggil ibu Guru dan menyatakan,
Khansa: “Bu guru lihat saya bisa menekan tombolnya dan keluar ini bu Guru”, sambil menunjukan keping origami yang keluar dari box dan Ana pun menimpali
Ana : “saya juga bisa bu guru”
Farel : “Bu Guru saya bisa mengangkat mobilnya bu guru”
Guru : “Bagus sekali”
Anak mengkomunikasikan megenai apa yang telah mereka ketahui dan dalam hal ini dukungan guru sangat penting bagi anak.
Penerapan Pendekatan Saintifik dalam Lingkup Perkembangan Seni
Kegiatan selanjunya Guru meminta anak-anak untuk membuat karya bebas dari bahan loose part yang telah disediakan guru, meliputi ranting, tutup botol, gelas minum dan kerikil yang telah di cat dalam tiga warna (merah, pink dan kuning) agar menarik bagi anak, bahan tersebut dibuat karya bebas dalam bentuk komponen mobil, selanjutnya membiarkan mereka menalarnya, memadukan dan menyebutkan apa nama komponen yang telah di buat tersebut.
Ana : “Bu Guru saya membuat box mobil”
Farel : “Saya membuat kemudi bu”
Guru : “Bagus sekali kalian berhasil menyelesaikan tugas dengan baik, apakah kalian mau melanjutkan dengan menambah beberapa ide lain pada karya kalian?”
Anak-anak : “Mau bu Guru”
Anak-anak telah menalar atau mengasosiasikan, membandingkan, mengelompokkan dan melakukan pengukuran pada karya yang telah dibuat.
Kegiatan Penutup
Sebelum pulang anak-anak melingkar sebagaimana pada pembukaan, semua telah siap dengan tas masing-masing dan beberapa anak menengok keluar untuk melihat orang tua dari balik pintu yang telah bersiap menjempunya. Sebelum berdoa sebelum pulang, Ibu Guru memberikan beberapa pertanyaan kepada anak-anak.
Guru : “Teman-teman mobil itu termasuk kendaraan apa ya?”
Anak-anak :”kendaraan darat bu guru”
Guru : “kalau di mobil itu ada apa saja ya?”
Ana : “Ada roda, tempat duduk, kemudi, spion, rantai bu guru
Guru : “bagus sekali, kalau suara mobil bagaimana?”
Rafa : “ Rhemmm,,,Rhemmm,,,seperti mobil-mobilannya upin ipin bu guru”
Guru : “Iya mas rafa, baiklah sekarang duduk yang rapi berdoa sebelum pulang”
Anak-anak pun berdoa kemudian berbaris rapi untuk menjabat Ibu Guru dan Pulang kerumah masing-masing bersama orang tuanya.
BAB IV
TENTANG MEDIA PEMBELAJARAN CAR AND MAGIC BOX
Tentang media
Nama Media : Car and Magic Box (Mobil dan Kotak Ajaib)
Rentan Usia : 3-6 Tahun
Manfaat Media
Media Car and Magic Box memiliki manfaat sebagaimana berikut:
Untuk mengenalkan kendaraan mobil pada anak usia dini.
Sebagai media pengenalan abjad, angka dan hijaiyah pada anak, usia 3-4 tahun dan media penyambung huruf, hitungan pada anak usia 4-6 tahun.
Mengembangkan enam aspek perkembangan anak
Menciptakan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan bagi anak.
Menambah daya imajinasi dan penegetahuan anak
Aspek yang di Kembangkan
Nilai Agama dan Moral
Anak terbiasa membaca doa sebelum naik kendaraan
Fisik Motorik
Anak mampu bergerak berputar menirukan gerakan mobil
Anak mampu menekan tombol on off suit mobil dan dan tombol pada kotak.
Kognitif
Anak mampu menyebutkan Angka, Huruf Abjad dan Huruf Hijaiyah pada permen yang keluar dari box
Anak mampu menghitung jumlah roda dan jumlah masing-masing permen dalam Box
Sosial Emosional
Anak mampu bersabar antri menunggu giliran
Anak mampu mencerminkan sikap kerjasama dalam tim
Bahasa
Anak mampu mengungkapkan komponen- komponen mobil
Anak mampu memahami pertanyaan sederhana
Anak mampu menanyakan apa yang ingin di ketahuinya
Seni
Anak mampu meirukan Suara Mobil
Anak Mampu membuat Karya yang berhungan dengan komponen mobil dari bahan limbah yang di temukan disekitarnya.