Indah Karena Ridhomu
Siti li’amanah
“LULUUUSS…….”
Suara ricuh anak SMA Harapan ketika tiba pengumuman kelulusan dan aku adalah
salah satu lulusan tahun ini, kericuhan berhenti ketika kepala sekolah naik
kepodium untuk memberi pengumuman
“Assalamualaikum
Wr. Wb”
“Waalaikumsalam
Wr. Wb” jawab anak-anak serentak
“Alhamdulillah
kita semua masih diberi rahmat Allah sehingga kita bisa bertemu dengan keadaan
sehat wal’afiyat, langsung saja saya umumkan bahwa pada lulusan tahun ini kita
kembali mendapatkan peringkat satu nasional dan peringkat ini didapatkan
oleeeeh…”pengumuman kepsek membuat semua anak-anak tertegun karena penasaran,
sampai kepsek kembali mengumumkan
“diraih
oleeeh AFRILIYA PERMATA PUTRI, kepada saudari Afrilia harap naik kepodium”
Aku kembali dibuat
melonggo, aku sangat kaget sekaligus bersyukur, bapak yang duduk disampingku
terlihat berkaca-kaca ibu hampir menangis, aku naik kepodium dengan iringan
Tasbih dan Tahmid tak henti terucap, aku sungguh senang akhir SMA ku bisa
membanggakan orang tua dan sekolahku,setelah acara selesai bapak dan ibu pulang
dulu karena aku harus menemui bu susi guru BKku, sesampainya aku di ruang BK bu
susi langsung mengutarakan maksudnya memanggilku.
“Liya ibu sudah melihat catatan
prestasimu, ibu harap setelah ini kamu melanjutkan kuliah di Universitas negeri
Liya”kata guru BK ketika beliau memanggil ku menghadapnya, dan aku belum bisa
memberi jawaban akan saran beliau, kemudian aku ijin untuk pulang, di jalan aku
bertemu dengan sahabatku Mega.
“ gimana Ya , ada apa kamu di panggil BK?”
“ Bu Susi minta aku buat kuliah Meg”
“ ya udah kamu kuliah aja lah Ya, kamu tu pinter,
guru-guru yang lain juga bakalan maksa gitu kayaknya”
“iya Meg, aku tahu, tapikan kamu juga ngerti gimana
kondisi perekonomian keluargaku kan?”
“ masa tidak ada harapan sih Ya”
“ aku nggak enak sama bapak dan ibu Meg, aku harus memahami kondisi kami”
“ ya udah deh, tapi dipikir-pikir lagi ya Ya”
“iya , makasih ya
Meg”
“ iya sama-sama”
Sejak hari itu aku
mulai gelisah karena aku bukanlah keturunan orang kaya, kami hidup serba
secukupnya, ayah dan ibu yang sudah tua tidak mungkin ku bebani dengan
permintaanku untuk kuliah, sampai suatu hari ku utarakan keiginanku pada bapak
“ Bapak kalau misalnya Liya pengen kuliah di kota, menurut bapak bagaimana??”
“ Begini ya nak, bukannya
bapak melarang, kamu sendiri kan tahu kehidupan kita bagaimana, ibu juga sering
sakit, kalau kamu mau kuliah di kota itu terlalu jauh nak” kata bapak dengan
hati-hati aku tahu bapak takut melukai hatiku, meski sedikit kecewa aku tetap
menerima apa yang bapak inginkan. Beberapa hari setelah kelulusan aku hanya
diam dirumah tanpa kegiatan sampai akhirnya aku mulai terbiasa dengan
hari-hariku dan aku mendapatkan kegiatan baru kini kujalani hari-hariku dengan
membantu bapak dan ibu dirumah sambil mengajar di TPQ dekat rumahku, setidaknya
aku masih bisa menularkan sedikit ilmu yang kumiliki, tetapi tak pernah pupus
harapanku untuk bisa melanjutkan studiku, sedikit demi sedikit aku menabung
sebagian uangku karena yang sebagian kuberikan pada ibu dan bapak untuk
keperluan rumah, aku hanya berharap tidak terlalu membebani bapak dan ibu.
v .
Satu tahun berlalu sudah,ini menjadi
tahun keduaku setelah kelulusan,masih terus ku berdoa agar aku bisa kembali
sekolah, sampai pada suatu hari bapak memanggilku
“ Liya tadi bapak dengar
anak pak lurah mau melanjutkan kuliah ke kota, kalau kamu memang masih ingin
sekolah, bapak ridho kamu ikut kesana nak”
“iya pak, Liya memang
ingin melanjutkan kuliah, tapi Liya akan kuliah didekat-dekat sini saja pak, Liya
juga merasa tidak mungkin kalau harus meninggalkan bapak ibu, TPQ dan anak-anak
pak”
“ Alhamdulillah, tapi
bagaimana dengaan cita-cita mu mengambil jurusan kimia nak? Didekat-dekat kan
tidak ada jurusan itu”
“ tidak apa-apa pak, Liya bisa ambil jurusan yang lain”
“ terima kasih ya nak kamu
bisa mengerti maksud bapak dan ibu”
“iya bapak “kataku sambil
memeluk bapak
Setelah beberapa hari berlalu pembicaraanku dengan bapak lalu aku
mendaftarkan diri di salah satu perguruan swasta yang tidak terlalu jauh dari daerahku,dan Alhamdulillah
aku diterima selain itu aku juga menjadi salah satu mahasiswa dengan prestasi
yang bagus sehingga aku mendapatkan beasiswa untuk mahasiswa berprestasi, dari
sini aku tidak lagi mengeluarkan biaya sedikitpun,bapak dan ibu juga ikut
menjadi bangga dengan apa yang telah
kuperoleh. Tidak cukup sampai disitu kurasakan keni’matan yang luar
biasa kini aku juga bisa mewakili kampusku debat di Universitas ternama di
Jerman, tidak sedikitpun terbayang mahasiswa dari kalangan bawah sepertiku bisa
menjejakkan kaki di luar negeri disana aku bersama dengan beberapa anak dari
berbagai Universitas Negeri salah satunya bernama Rangga dia mahasiswa dua
tingkat diatasku perwakilan dari UI Jakarta, kesan indah kudapat pertama
mengenalnya, sikapnya yang ramah dan sopan sempat membuatku tertawan mungkinkah
ini cinta pandangan pertama, sampai sepulang dari Jermanpun kami masih sering
berkomunikasi namun tidak ada yang serius dari hubungan kami, tetapi perhatiannya
terhadapku terkadang membuatku bertannya-tanya siapakah aku baginya? Sayangnya
hati ini hanya mampu bertanya tanpa bisa mengungkapkan. Seiring berjalannya
waktu kudapat kabar dari mas Rangga kalau dia sudah ujian dan akan diwisuda
minggu depan, ada yang aneh disini ketika dia katakan dia ingin aku hadir dalam
wisudanya dan seperti biasa aku selalu ceritakan semuanya pada sahabatku Mega
“ Assalamualaikum,Mega”sapaku
dari telepon
“Waalaikumsalam… Liyaa,
apa kabar jarang nelvon sekarang, mentang-mentang sudah ada mas rangga jarang
nelvon aku lagi, aku terlupakan”gerutu mega ketika baru mengangkat televonku
“aduh mega sayang, bukanya gitu tahu, aku sibuk banget, bukan karna
ada mas rangga kog” sanggahku
“iya iya …ada cerita apa lagi ni?”
“ tahu aja kamu kalau aku mau
cerita,hehehe”
“ ya tahu lah mega gitu
loohh,,heeee”
“huuuu dasar .gini ni Meg ceritanya
kemaren mas rangga nelvon minggu depan dia di wisuda, dia berharap aku datang,
tapi kan nggak mungkin banget Meg kalau aku ke Jakarta, sama siapa juga terus nggak
bakal dikasih izin juga sama bapak kan, terus aku jawab deh kalau aku nggak
bisa datang, habis itu sampai sekarang dia nggak pernah hubungi aku lagi Meg,
menurutmu apa dia marah ya Meg ?”
“kalau kayanya sih nggak deh Ya,
ngapain coba dia marah, kamu kan bukan siapa-siapanya, apa coba haknya buat
marah sama kamu gara-gara kamu nggak datang ke wisudanya, dia sibuk kali Ya,
kamunya aja yang nggak bisa nahan rindu nggak di telvon iya kan.hayoo”
“ hih apaan sih, nggak lah, Cuma
perasaan aja kayak gitu, takutnya dia marah”
“karena kamu suka sama dia kan?”
“tau ah, nggak asyik kamu, udah dulu
deh, aku harus ngajar ni, udah jam segini kasian anak-anak kalau nunggu”
“oke bu guru,hehehe,bye”
“Bye, Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Kututup telepon
dan segera pergi ke masjid untuk ngajar TPQ disana.
Dua
minggu sudah setelah tanggal wisuda mas rangga tapi dia sama sekali tidak
pernah menghubungiku, mungkinkah dia sibuk, ataukah dia marah padaku, aku mulai
gelisah namun tidak berani menghubunginya lebih dulu, sore ini aku mengajar TPQ
tapi entah hatiku dimana, sesekali ku tatap layar ponsel berharap ada telepon
atau sms masuk darinya, namun sia-sia hanya tinggal harapan sampai Ana tetangga
sebelah rumahku memanggilku
“Liya.kamu disuruh pulang bapakmu,
dirumahmu ada tamu”
“tamu siapa Na,kenapa aku harus pulang,bukannya bapak
dirumah”
“tamunya buat kamu kali Ya”
“ooh ya Na, makasih ya, kamu bawa
motor kan? Aku ikut ya”
“oke ayolah ikut aku”
“aku ambil tas dulu didalam,sekalian
pamit sama anak-anak”
Sesampainya
dirumah,aku bertanya-yanya siapa yang datang? Kenapa ada mobil?, lalu ku
ucapkan salam masuk kerumah, betapa kagetnya aku ketika seorang pemuda yang
duduk disofa dekat pintu itu berpaling menatapku, dan dia adalah mas rangga
yang membuatku gelisah beberapa hari ini,aku semakin bingung di buatnya,
“langsung duduk saja nak”kata bapak
memerintahku,karena sekian menit aku tertegun tanpa bergerak sedikitpun dari
pintu, sapaan bapak membuatku tersadar dari pikiran-pikiran tak menetu
dihatiku. Sebelum duduk kusalami seorang ibu yang duduk disamping mas rangga
dan ku tangkupkan tangan opada laki-laki separuh baya disampingnya yang
belakangan ku tahu mereka ayah dan Ibunya mas rangga,dan kemudian aku duduk
disamping ibu, setelah itu mereka mengutarakan maksud kedatangan mereka adalah
untuk melamarku, mendengar itu waktu seolah berhenti bergerak seseorang yang
selama ini ku rindukan hadir menawarkan madu yang tidak akan mampu ku tolak,
lamaran itupun ku terima dengan sepenuh hati, dan pihak keluarga meminta agar
tidak usah lama-lama ta’arufnya sehingga bulan depan akad nikah kami akan
diselenggarakan. Subhanallah tidak henti-hentinya ku ucapkan tasbih dan syukur
kehadirat allah begitu besar ni’mat yang telah dilimpahkannya terhadapku,
akhirnya akan kujalani hidup dengan orang
yang sangat kucintai, hidup dalam linangan ridho ilahi.THE END.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar