Selasa, 01 November 2016

indah dengan ridhomu



Indah Karena Ridhomu
Siti li’amanah

“LULUUUSS…….” Suara ricuh anak SMA Harapan ketika tiba pengumuman kelulusan dan aku adalah salah satu lulusan tahun ini, kericuhan berhenti ketika kepala sekolah naik kepodium untuk memberi pengumuman
“Assalamualaikum Wr. Wb”
“Waalaikumsalam Wr. Wb” jawab anak-anak serentak
“Alhamdulillah kita semua masih diberi rahmat Allah sehingga kita bisa bertemu dengan keadaan sehat wal’afiyat, langsung saja saya umumkan bahwa pada lulusan tahun ini kita kembali mendapatkan peringkat satu nasional dan peringkat ini didapatkan oleeeeh…”pengumuman kepsek membuat semua anak-anak tertegun karena penasaran, sampai kepsek kembali mengumumkan
“diraih oleeeh AFRILIYA PERMATA PUTRI, kepada saudari Afrilia harap naik kepodium”
Aku kembali dibuat melonggo, aku sangat kaget sekaligus bersyukur, bapak yang duduk disampingku terlihat berkaca-kaca ibu hampir menangis, aku naik kepodium dengan iringan Tasbih dan Tahmid tak henti terucap, aku sungguh senang akhir SMA ku bisa membanggakan orang tua dan sekolahku,setelah acara selesai bapak dan ibu pulang dulu karena aku harus menemui bu susi guru BKku, sesampainya aku di ruang BK bu susi langsung mengutarakan maksudnya memanggilku.
            “Liya ibu sudah melihat catatan prestasimu, ibu harap setelah ini kamu melanjutkan kuliah di Universitas negeri Liya”kata guru BK ketika beliau memanggil ku menghadapnya, dan aku belum bisa memberi jawaban akan saran beliau, kemudian aku ijin untuk pulang, di jalan aku bertemu dengan sahabatku Mega.
“ gimana Ya , ada apa kamu di panggil BK?”
“ Bu Susi minta aku buat kuliah Meg”
“ ya udah kamu kuliah aja lah Ya, kamu tu pinter, guru-guru yang lain juga bakalan maksa gitu kayaknya”
“iya Meg, aku tahu, tapikan kamu juga ngerti gimana kondisi perekonomian keluargaku kan?”
“ masa tidak ada harapan sih Ya
“ aku nggak enak sama bapak dan ibu Meg, aku harus memahami kondisi kami”
“ ya udah deh, tapi dipikir-pikir lagi ya Ya
“iya , makasih ya Meg
“ iya sama-sama”
 Sejak hari itu aku mulai gelisah karena aku bukanlah keturunan orang kaya, kami hidup serba secukupnya, ayah dan ibu yang sudah tua tidak mungkin ku bebani dengan permintaanku untuk kuliah, sampai suatu hari ku utarakan keiginanku pada bapak
            “ Bapak kalau misalnya Liya pengen kuliah di kota, menurut bapak bagaimana??”
            “ Begini ya nak, bukannya bapak melarang, kamu sendiri kan tahu kehidupan kita bagaimana, ibu juga sering sakit, kalau kamu mau kuliah di kota itu terlalu jauh nak” kata bapak dengan hati-hati aku tahu bapak takut melukai hatiku, meski sedikit kecewa aku tetap menerima apa yang bapak inginkan. Beberapa hari setelah kelulusan aku hanya diam dirumah tanpa kegiatan sampai akhirnya aku mulai terbiasa dengan hari-hariku dan aku mendapatkan kegiatan baru kini kujalani hari-hariku dengan membantu bapak dan ibu dirumah sambil mengajar di TPQ dekat rumahku, setidaknya aku masih bisa menularkan sedikit ilmu yang kumiliki, tetapi tak pernah pupus harapanku untuk bisa melanjutkan studiku, sedikit demi sedikit aku menabung sebagian uangku karena yang sebagian kuberikan pada ibu dan bapak untuk keperluan rumah, aku hanya berharap tidak terlalu membebani bapak dan ibu.
v  .
 Satu tahun berlalu sudah,ini menjadi tahun keduaku setelah kelulusan,masih terus ku berdoa agar aku bisa kembali sekolah, sampai pada suatu hari bapak memanggilku
            “ Liya tadi bapak dengar anak pak lurah mau melanjutkan kuliah ke kota, kalau kamu memang masih ingin sekolah, bapak ridho kamu ikut kesana nak”
            “iya pak, Liya memang ingin melanjutkan kuliah, tapi Liya akan kuliah didekat-dekat sini saja pak, Liya juga merasa tidak mungkin kalau harus meninggalkan bapak ibu, TPQ dan anak-anak pak”
            “ Alhamdulillah, tapi bagaimana dengaan cita-cita mu mengambil jurusan kimia nak? Didekat-dekat kan tidak ada jurusan itu”
            “ tidak apa-apa pak, Liya bisa  ambil jurusan yang lain”
            “ terima kasih ya nak kamu bisa mengerti maksud bapak dan ibu”
            “iya bapak “kataku sambil memeluk bapak
Setelah beberapa hari berlalu pembicaraanku dengan bapak lalu aku mendaftarkan diri di salah satu perguruan swasta  yang tidak terlalu jauh dari daerahku,dan Alhamdulillah aku diterima selain itu aku juga menjadi salah satu mahasiswa dengan prestasi yang bagus sehingga aku mendapatkan beasiswa untuk mahasiswa berprestasi, dari sini aku tidak lagi mengeluarkan biaya sedikitpun,bapak dan ibu juga ikut menjadi bangga dengan apa yang telah  kuperoleh. Tidak cukup sampai disitu kurasakan keni’matan yang luar biasa kini aku juga bisa mewakili kampusku debat di Universitas ternama di Jerman, tidak sedikitpun terbayang mahasiswa dari kalangan bawah sepertiku bisa menjejakkan kaki di luar negeri disana aku bersama dengan beberapa anak dari berbagai Universitas Negeri salah satunya bernama Rangga dia mahasiswa dua tingkat diatasku perwakilan dari UI Jakarta, kesan indah kudapat pertama mengenalnya, sikapnya yang ramah dan sopan sempat membuatku tertawan mungkinkah ini cinta pandangan pertama, sampai sepulang dari Jermanpun kami masih sering berkomunikasi namun tidak ada yang serius dari hubungan kami, tetapi perhatiannya terhadapku terkadang membuatku bertannya-tanya siapakah aku baginya? Sayangnya hati ini hanya mampu bertanya tanpa bisa mengungkapkan. Seiring berjalannya waktu kudapat kabar dari mas Rangga kalau dia sudah ujian dan akan diwisuda minggu depan, ada yang aneh disini ketika dia katakan dia ingin aku hadir dalam wisudanya dan seperti biasa aku selalu ceritakan semuanya pada sahabatku Mega
            “ Assalamualaikum,Mega”sapaku dari telepon
            “Waalaikumsalam… Liyaa, apa kabar jarang nelvon sekarang, mentang-mentang sudah ada mas rangga jarang nelvon aku lagi, aku terlupakan”gerutu mega ketika baru mengangkat televonku
            “aduh mega sayang, bukanya gitu tahu, aku sibuk banget, bukan karna ada mas rangga kog” sanggahku
            “iya iya …ada cerita apa lagi ni?”
            “ tahu aja kamu kalau aku mau cerita,hehehe”
            “ ya tahu lah mega gitu loohh,,heeee”
            “huuuu dasar .gini ni Meg ceritanya kemaren mas rangga nelvon minggu depan dia di wisuda, dia berharap aku datang, tapi kan nggak mungkin banget Meg kalau aku ke Jakarta, sama siapa juga terus nggak bakal dikasih izin juga sama bapak kan, terus aku jawab deh kalau aku nggak bisa datang, habis itu sampai sekarang dia nggak pernah hubungi aku lagi Meg, menurutmu apa dia marah ya Meg ?”      
            “kalau kayanya sih nggak deh Ya, ngapain coba dia marah, kamu kan bukan siapa-siapanya, apa coba haknya buat marah sama kamu gara-gara kamu nggak datang ke wisudanya, dia sibuk kali Ya, kamunya aja yang nggak bisa nahan rindu nggak di telvon iya kan.hayoo”
            “ hih apaan sih, nggak lah, Cuma perasaan aja kayak gitu, takutnya dia marah”
            “karena kamu suka sama dia kan?”
            “tau ah, nggak asyik kamu, udah dulu deh, aku harus ngajar ni, udah jam segini kasian anak-anak kalau nunggu”
            “oke bu guru,hehehe,bye”
            “Bye, Assalamualaikum”
            “Waalaikumsalam”       
Kututup telepon dan segera pergi ke masjid untuk ngajar TPQ disana.
Dua minggu sudah setelah tanggal wisuda mas rangga tapi dia sama sekali tidak pernah menghubungiku, mungkinkah dia sibuk, ataukah dia marah padaku, aku mulai gelisah namun tidak berani menghubunginya lebih dulu, sore ini aku mengajar TPQ tapi entah hatiku dimana, sesekali ku tatap layar ponsel berharap ada telepon atau sms masuk darinya, namun sia-sia hanya tinggal harapan sampai Ana tetangga sebelah rumahku memanggilku
            “Liya.kamu disuruh pulang bapakmu, dirumahmu ada tamu”
            “tamu siapa  Na,kenapa aku harus pulang,bukannya bapak dirumah”
            “tamunya buat kamu kali Ya”
            “ooh ya Na, makasih ya, kamu bawa motor kan? Aku ikut ya”
            “oke ayolah ikut aku”
            “aku ambil tas dulu didalam,sekalian pamit sama anak-anak”
Sesampainya dirumah,aku bertanya-yanya siapa yang datang? Kenapa ada mobil?, lalu ku ucapkan salam masuk kerumah, betapa kagetnya aku ketika seorang pemuda yang duduk disofa dekat pintu itu berpaling menatapku, dan dia adalah mas rangga yang membuatku gelisah beberapa hari ini,aku semakin bingung di buatnya,
            “langsung duduk saja nak”kata bapak memerintahku,karena sekian menit aku tertegun tanpa bergerak sedikitpun dari pintu, sapaan bapak membuatku tersadar dari pikiran-pikiran tak menetu dihatiku. Sebelum duduk kusalami seorang ibu yang duduk disamping mas rangga dan ku tangkupkan tangan opada laki-laki separuh baya disampingnya yang belakangan ku tahu mereka ayah dan Ibunya mas rangga,dan kemudian aku duduk disamping ibu, setelah itu mereka mengutarakan maksud kedatangan mereka adalah untuk melamarku, mendengar itu waktu seolah berhenti bergerak seseorang yang selama ini ku rindukan hadir menawarkan madu yang tidak akan mampu ku tolak, lamaran itupun ku terima dengan sepenuh hati, dan pihak keluarga meminta agar tidak usah lama-lama ta’arufnya sehingga bulan depan akad nikah kami akan diselenggarakan. Subhanallah tidak henti-hentinya ku ucapkan tasbih dan syukur kehadirat allah begitu besar ni’mat yang telah dilimpahkannya terhadapku, akhirnya akan kujalani hidup dengan orang  yang sangat kucintai, hidup dalam linangan ridho ilahi.THE END.           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar